Diantara perkara yang harus kita ingat ketika akan ziarah kubur adalah adab dan tata krama dalam berziarah. Abah Djamal sering mengingatkan bahwa tatakrama ziarah kepada para auliya adalah saat sebelum ziarah jangan mampir-mampir dulu. Jangan makan, ngopi atau belanja dulu tapi harus ziarah ke makam yang diutamakan.
HIKAYAT
Beliau sering menceritakan Mbah Shodiq ketika berziarah ke Makam Sunan Ampel Surabaya. Saat itu para jamaah tidak langsung ke Makam tapi mampir dan berbelanja dulu. Singkatnya Mbah Ampel tidak mau menemui peziarah karena mereka ke makam hanya sebagai ampiran setelah berbelanja. Oleh karena itu, Mbah Yai Djamal sering mengingatkan bahwa tatakrama untuk ziarah adalah langsung ke makam, jangan mampir-mampir terlebih dulu.
KAJIAN KITAB
Di dalam kitab Mausu’ah al-Yusufiyah Fi Bayani Adilati Shufiyah, disebutkan bahwa Nabi Muhammad satu ketika meletakan batu-di atas makam sahabat Usman bin Mad’un. Ketika ditanya untuk apa itu Ya Rasulallah?. Beliau menjawab:
أتعَرف بِه قبرَ أخي
”Aku meletakan batu ini agar aku mengetahui bahwa ini adalah makam sabahabatku.”
Dari hadist ini para ulama menyimpulkan bahwa meletakan sesuatu di atas kuburan yang tujuannya adalah sebagai tanda agar diketahui makam itu adalah makam dari keluarga atau dari teman kita. Yang di dalam istilah jawa-nya adalah memberi nisan / maesan adalah boleh.
Selain itu faidah dari memberi Batu Nisan yang diletakan di atas makam adalah sebagau tanda bahwa orang yang dimakamkan adalah orang baik atau orang sholeh. Bahkan di daerah Janti, timur peterongan Jombang, ada makam yang mesannya yang memberi / menandai adalah Gus Dur. Karena Gus Dur mengetahui kiprah dan jasa Beliau.
Selain itu diantara faedah suatu makam diberi tanda atau maesan adalah agar keluarga atau teman bisa memberikan doa kepada mereka dan bisa berziarah.
DALIL ZIARAH KUBUR
Dasar dan Dalil melaksanakan ziarah kubur adalah sabda Rasulullah Saw bahwa :
كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزورها فإنها تُذكِر كم الآخرة
Artinya : “Aku melarang Kamu sekalian dari ziarah kubur (yaitu pada awal permulaan Nabi menyebarkan agama Islam karena pada saat itu belum ada tuntunan dan tata cara tentang ziarah kubur tapi setelah Nabi mengajarkan cara dan faidah ziarah) Nabi berkata: Maka Berziarahlah karena dalam ziarah ada faidah untuk mengingat kematian”.
Dalam ilmu ushul fiqih atau pelajaran para santri jika ada perintah setelah adanya larangan atau istilahnya, “al-Amru bakda Nahyi”. Adanya perintah setelah larangan artinya adalah “Yadulu ala jawaz”. Atau menunjukan arti kebolehan perkara tersebut.
FAEDAH ZIARAH KUBUR
Diantara faedah dari ziarah kubur adalah untuk mengingat-ingat akan perkara akhirat. Dimana peziarah akan ingat bahwa kelak meraka akan mengalami nasib seperti mereka dan bermuhasabah, kelak siapakah yang akan mendoakan ketika sudah mati. Sehingga Nabi juga berpesan, “Cukuplah kematian sebagai maidloh!”.
HIKAYAT NABI
Nabi Muhammad Saw pernah berziarah ke Makam Ibunya yaitu Makam Sayidah Aminah di Abwa’. Daerah yang letaknya antara Kota Makah dan Madinah. Tapi lebih dekat jika ditempuh dari Madinah. Makam Sayidah Aminah di Shokra atau tengah-tengah padang pasir dan di atas pegunungan.
Saat ziarah Nabi menangis sampai para sahabat yang berada di sekitar Nabi juga menangis. Dari peristiwa ini para ulama berpendapat bahwa jika menangis di kuburan dengan niat mengingat akhirat dan kematian hukumnya adalah boleh. Asalkan tidak boleh Mubalagah atau berlebihan Karena Nabi juga pernah menangis saat ziarah ke Makam Ibunya.
Dalam Kitab Tajridul Shoreh disebutkan tentang cerita bahwa Nabi saat berjalan dengan para sahabat melewati suatu pekuburan, lalu beliau mengambil beberapa pelepah kurma dan meletakannya di atas kuburan tersebut. Nabi kemudian berdoa dengan sangat khusyuk.
Para sahabat kemudian bertanya, mengapa Nabi berdoa dengan sangat khusyuk?. Nabi kemudian menjawab bahwa mereka sedang disiksa oleh malaikat. Apa yang dilakukan Nabi yaitu memberi pelepah kurma di atas kubur dan mendoakan orang yang telah mati adalah sebagai dalil bahwa hal itu boleh dan berfaidah sebagai peringan siksa bagi orang yang diziarahi.
Di Jawa kita memberikan bunga atau daun-daunan di makam keluarga kita. Dan hal itu memang dicontohkan oleh Nabi dan diambil dalil oleh para ulama bahwa hal itu boleh.
ZIARAH KUBUR MENURUT PARA IMAM
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanyai tentang ziarah kubur?. Imam Ahmad bin Hambal menjawab bahwa ziarah kubur adalah afdhol atau lebih utama.
Adapun Imam Nawawi mengutip hadist Nabi tentang ziarah kubur bahwa hal itu boleh. Sebagaimana hadist:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزورها فإنها تُذكِر كم الآخرة
Ibnu Hazm berpendapat bahwa ziarah kubur hukumnya adalah wajib karena pada hadist tersebut ada perintah yaitu dalam lafadz فزورها. Walaupun ziarah kubur itu hanya dilakukan 1 kali dalam hidup tapi hukumnya wajib, karena ada dalil yang menunjukan perintah tentang itu. Darimana Ibnu Hazm berpendapat demikian?. Yaitu dari pendapat dari Ibnu Hajar.
Imam Ar-Rowas berpendapat bahwa ziarah kubur adalah disyaratkan. Bahkan beliau berpendapat, “Berdoa di kuburan orang muslim adalah mustajab, karena di kuburan orang muslim adalah tempatnya rohmad!”.
Oleh karena itu Abah Djamal sering menerangkan bahwa setelah kita melaksanakan tahlil dan doa. Kita diperbolehkan untuk diam sejenak untuk berdoa, meminta kepada Allah Swt tentang kahajar kita. Karena di makam-makam orang muslim adalah tempat turunya rohmad.
Syekh Muhammad Ramada Al-Buthi, ulama dari syuriah yang juga mensyarahi kitab Al-Hikam. Belia menerangkan bahwa ayahnya sering berziarah kubur, pernah ziarah ke makam Ibrahim bin Adham, sampai ke makam Uwais Al-Qarni. Dan setiap setelah ziarah ayah saya selalu berpesan, “Berdoa di Makam orang-orang yang sholeh adalah tempat turunya rohmad dari Allah Swt!”.
Beliau juga menjelaskan doa yang harus dipanjatkan ketika berada di makam orang sholeh bahwa sayogyanya mendoakan atas dirinya sendiri dan kepada orang muslim secara umum.
PEREMPUAN BERZIARAH KUBUR
Bolehkah perempuan berziarah kubur?. Orang perempuan boleh melaksanakan ziarah kubur. Dan itu adalah qoul dari mayoritas ulama dengan dalil hadist perintah ziarah dari Nabi. Karena lafadz perintahnya berupa kalimat umum. Namun tetap ada beberapa aturan atau syarat yang mengikat!.
Dalil yang lain bahwa perempuan boleh ziarah kubur adalah Sayidah Aisyah pernah meminta izin berizarah ke makam saudaranya yang bernama Abdurahman. Dan Nabi memberikan izin. Para sahabat ada yang bertanya, apakah Nabi tidak melarang?. Dijawab Sayidah Aisyah, bahwa Nabi tidak melarang. Sehingga dari ketetapan ini perempuan boleh berizarah.
Ketika mengiringi jenazah yang akan di makamkan. Di belakang orang yang mengangkat keranda jenazah biasanya orang-orang membaca zikir, “Laa ilaha Ila Allah!”. Dan hal itu dibolehkan. Karena banyak sekali hadist yang menerangkan fadilah, “Laa ilaha Ila Allah”.
Dalam kitab Al-Mausyu’ah dijelaskan bahwa jika tidak ada dalil nash yang melarang maka jika diakhir zaman ada orang yang melakukan hal baik, walaupun pada zaman nabi tidak ada, hal itu tetap boleh. Karena yang dibaca adalah zikir. Sama halnya dengan orang yang membaca Yasin, Tahlil dan ayat Al-Quran. Semua itu boleh.
TATA CARA ZIARAH KUBUR
Saat ziarah kubur, apa yang dibaca?. Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tengang hal itu. Nabi menjawab:
قولي : السلامُ على أهلِ الديارِ من المؤمنينَ و المسلمينَ ، و يرحمُ اللهُ المستقدمينَ منَّا و المستأخرينَ ، وإنَّا إن شاء اللهُ بكم لاحقونَ
Abah Djamal memberikan tuntunan bahwa setelah membaca salam kepada ahli kubur, ketika kita ziarah kepada para sholihin adalah dengan membaca qasidah sebelum ziarah kubur, yaitu “Salamuahi Ya Saddah……”.
Imam Nawawi berpendapat bahawa sunah kepada orang yang berziarah untuk mengurutkan (1) Mengucakan salam, (2) Berdoa kepada orang-orang yang ada dalam maqbarah.
Lalu apakah orang yang berziarah mendengarkan salam yang kita ucapkan?. Seluruh ulama berpendat, mereka mendengarkan. Diantaranya adalah Imam Ibnu Qoyim berkata, “Jika ada orang yang masih hidup mengucapkan salam kepada ahli kubur, maka seluruh ahli kubur mendengarkannya”.
Di dalam kitab Kitabur Ruh disebutkan bahwa jika ada orang yang mengucapkan salam kepada orang mati yang dituju, maka para muslim yang ada disekitarnya seolah iri, karena salam kepada mereka adalah doa.
Dalam kitab Irsyadul Ibad diceritakan bahwa ada orang sholeh yang jarak antara rumah dan masjidnya lumayan jauh. Satu ketika dia berjalan menuju masjid tapi sangat mengantuk. Akhirnya tidur sebentar di depan suatu makam yang dekat dengan masjid. Di tempat itu dia bermimpi, (dalam kitab lain namanya Syekh Sholeh Al-Mursyi).
Dalam mimpinya dia melihat orang-orang yang berada di makam semua bangkit, lalu membawa nampan yang ditutup kain putih. Lalu Syekh Sholeh Al-Mursyi bertanya sedang apa mereka membawa nampan bertutup kain putih?. Lalu salah satu ruh itu menjawab, “Malam ini adalah malam Jumat, mereka semua sedang menunggu kiriman dari anak cucunya dan nampan itu adalah sebagai tempat pahalanya!”.
Kemudian Syekh Sholeh Al-Mursyi bertanya kepada ruh itu, lalu Sampean kenapa tidak ikut menunggu?. Lalu ruh itu menjawab, “Aku tidak butuh semua itu karena aku masih memiliki anak yang hafal Alqruan yang setiap hari membacakan Alquran untukku, sekarang dia berjualan kue dipasar!”.
Setelah itu Syekh Sholeh Al-Mursyi bangun dan sholat subuh. Setelah itu mencari anak ruh yang ada dikubur, ternyata dia berjualan kue di pasar dan bibirnya selalu basah membaca Alquran. Kemudian didekatilah oleh Syekh Sholeh Al-Mursyi dan ditanyai tentang bapaknya. Akhirnya dicocokan oleh cerita arwah yang sudah mati. Sampai beberapa waktu.
Satu ketika Syekh Sholeh Al-Mursyi akan berangkat ke masjid sengaja tidur di depan kuburan. Lalu mendapatkan mimpi yang sama tapi berbeda keadaan. Saat ini semua orang termasuk arwah yang sebelumnya semua membawa nampan. Ketika ditanya mengapa kok ikut-ikutan membawa nampan?. Ternyata anaknya telah meninggal. Sehingga sudah tidak ada yang kirim doa dan fatihah. Kecuali berharap doa umum untuk semua orang muslim dan muslimat.
Orang yang sudah meninggal juga mengethui tingkah laku dari orang yang masih hidup. Dalam kitab tanbihul ghofilin dijelaskan ada seseorang sowan kepada Nabi dan bertanya, “Ya Rasul saya sudah tidak punya bapak dan ibu, apakah saya masih bisa berbakti kepada mereka?”. Rasulullah menjawab, “Mintakanlah ampunan, doakan dan bersedekahlah untuk mereka, dan jadilah orang yang sholeh untuk dirimu dan keluargamu!”.
Adab dan tata krama ziarah kubur yang ditulis oleh Abah Djamal diantaranya adalah:
1- Menjaga adab dan tatakrama baik perkataan dan perbuatan saat di lokasi makam. Temasuk memakai baju yang sopan.
2- Duduk disebelah barat makam atau menghadap ke timur, apabila memungkinkan sebagaimana ketika ziarah kepada orang tua yang sudah wafat.
3- Ketika melewati makam lewatlah dibagian selatan atau bagian kaki, jangan melewati yang bagian kepala mayit.
4- Sebelum duduk membaca qosidah qabal ziarah kubur.
5- Membaca Tahlil dan doa
6- Setelah itu berdiam sejenak berdoa kepada Allah Swt, bukan meminta kepada yang diziarahi. Permintaan yang paling pokok adalah 4 hal yaitu : tetapnya iman, hati yang bersih, keberkahan atas apa yang diberikan Allah Swt, dan selamat dunia akhirat. (*)
*Disarikan dari Ngaji Hikam Setiap Malam Selasa oleh KH. Saiful Hidayat, M.HI di Masjid Al-Muhibin Tambakberas Jombang, 6 Februari 2026
Sumber : Facebook Muhammad Zulianto

